Selasa, 15 Januari 2008

Langkah-Langkah Sukses

Ahmad Gozali , ahli perencana keuangan keluarga, memberi tips sebelum memulai usaha:
• Memikirkan untung rugi
Apakah kegiatan usaha atau pekerjaan yang ditekuni justru lebih banyak menghabiskan uang dibandingkan jika tidak bekerja?. Misalnya, wirausaha membuat ibu harus mengeluarkan biaya untuk pemakaian telepon, listrik, biaya transportasi dan sebagainya, sehingga jika dihitung justru mendatangkan kerugian. Selain untung-rugi secara material, untung-rugi nonmaterial juga diperhitungkan. Misalnya, apakah usaha yang dijalankan membuat ibu justru kerap meninggalkan anak-anak?
• Menyiapkan modal usaha
Modal usaha dapat diperoleh melalui sebuah perencanaan matang, yaitu dengan menyisihkan sejumlah uang setiap bulan sehingga pada saat direncanakan, tabungan dapat digunakan sebagai modal. Sebaiknya modal juga merupakan tabungan yang sama sekali tidak dialokasikan untuk biaya tak terduga, dana darurat, maupun tabungan-tabungan bertujuan lain. Untuk ini Anda juga perlu mencermati risiko plus-minus berhutang. Konsultasikan hal ini pada ahli keuangan.
• Sesuai minat .
Bidang usaha yang dikuasai dan diminati dapat mengurangi faktor risiko.
• Melihat kebutuhan pasar
Cermati kompetitor. Apakah ada kompetitor dengan bidang usaha yang sama di lingkungan tempat ibu berusaha? Bagaimana animo masyarakat terhadap bidang usaha tersebut?
• Kreatif mencari diferensiasi usaha
Jika bidang usaha yang akan ibu lakukan banyak dijalankan beberapa kompetitor, cobalah kreatif mencari diferensiasi dari usaha yang sama. Seperti Yayu yang menyediakan buku bacaan bermutu dan alat komunikasi di setiap mobil antar-jemputnya. Atau, Indira yang menyediakan paket kursus spesial liburan.
• Mengantisipasikan berbagai masalah . Siapkan berbagai alternatif cara mengatasi masalah.
• Mulai dari yang kecil dan tidak butuh banyak modal.
Usaha yang dimulai dari rumah biasanya lebih memudahkan ibu menjalankannya dengan risiko relatif lebih kecil dibanding menyewa tempat di luar rumah.

Jangan Lakukan!

Jangan mencampur aduk keuangan keluarga atau pribadi dengan keuangan usaha. Pisahkan secara tegas urusan rumah tangga dan urusan usaha. Misalnya, seorang ibu memasukkan anak ke TPA (Tempat Penitipan Anak) yang dikelolanya, ia harus memperlakukan si anak sama dengan anak lain. Anak harus dicatat sebagai konsumen yang juga dianggap membayar.

Kiat-kiat Bagi Pemula
Yayu:
• Jangan punya usaha yang hanya bertarget semata-mata demi keuntungan.
• Terbuka terhadap saran dan kritik konsumen.

Indira Hadi:
• Keseriusan merupakan modal utama dalam berusaha, sekecil apa pun usaha tersebut.
• Manajemen waktu yang baik merupakan kunci sukses sehingga ibu sebaiknya menyeimbangkan waktu dalam mengurusi usaha, mengurus rumah tangga dan memenuhi kebutuhan pribadi, seperti bersosialisasi.

Bisnis dan Rumah Tangga Harus Seimbang

Dra. Farida Haryoko, M.Psi
Staf pengajar Jurusan Psikologi Industri dan Organisasi, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

Tidak ada komentar: